Jumat, 18 Maret 2016

Tubuh Yang Halus....

Cerita ini terjadi ketika Anjar berumur 19 tahun dan adiknya 15 tahun. Sebut saja nama adiknya Anjar Amel, gadis mungil yang bertubuh seksi dan berwajah sangat imut. Dia juga memiliki postur tubuh yang sangat ideal dengan badannya yang gak gemuk juga gak kurus terlihat badannya padat berisi. Tubuhnya pun dihiasi dengan buah dadanya yang mungil namun sangat kencang dan padat.
Karena kebebasan yang diberikan oleh papah dan mamah Anjar makanya Anjar dan Amel sering tidur berdua walau kami sudah dewasa. Naah malam itu adik Anjar sedang membutuhkan computer yang ada dikamar Anjar, karena komputernya hanya satu dan Anjar taruh didalam kamarnya. waktu itu papah dan mamah Anjar sedang pergi keluar kota, dan suasana malam itu juga hujan. Amel sedang asik maenan computer didalam kamar Anjar, sementara Anjar nonton tv diruang tengah. Ketika malam tiba, Anjar terasa ngantuk sekali dan Anjar memutuskan untuk kekamar untuk tidur. Namun baru membuka pintu kamar Anjar melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Adiknya Amel mengenakan baju tidur yang sangat menerawang, sehingga terlihat jelas BH dan celana dalamnya yang berwarna merah tersebut. Sontak mata Anjar langsung terbelak dan batang yag berada dibalik celana dalamnya pun seketika mengeras.
“Mel,” bisiknya. Anjar maju menghampir adiknya. Ia menggoyang-goyang tubuh adiknya.
” Mel,” ia serunya sedikit lebih nyaring.
“Huh.. A.. Ada apa?”
“fish, aku tidak bisa tidur.”
“Lalu mau apa, pergi sana.”
“Beri aku kesempatan tidur di sini malam ini.”
“Kenapa?”

“Ini semua gara-gara kamu! Kamu membuatku terjaga semalam suntuk! Aku hanya bisa tidur lebih baik kalau ada temannya? Dan Aku tidak mungkin pergi tidur dengan ibu dan bapak. Tolonglah, Aku mau melakukan apapun! Aku mau dijadikan budakmu untuk seharian besok! Maksudku, bukan budakmu beneran tetapi bagaimana jika aku memasakkan kamu dan Mike?”
“Tidak, aku ingin sendirian!”
“Baiklah, baiklah, Aku jadi budakmu.. Hari ini. Tolonglah, biarkan saja aku tidur disini malam ini. Aku tidak bisa tidur sendirian.”
“OK Njar, kamu boleh tidur di sini.”
“Yah! Terima kasih!”

Anjar pun meloncat ke tempat tidur.

“Tidur di kanan.” Bentak Amel.

Iklan Sponsor :

Anjar menggulingkan tubuhnya melewati tubuh Amel. Ia merasakan puting susu Amel yang keras menggesek dadanya. Beberapa detik dia berada diatas tubuh gadis itu, kemudian berguling kesisi kanan.

“Ohh! Mau apa kamu? Menggencet tubuhku?”
“Yah!” Anjar menjawab
“fish! Aku kedinginan, Peluklah aku Njar?” kata Amel.
“Oh, tentu.” Kata Anjar.

Anjar menempatkan kakinya diatas paha Amel dan tangan kanannya memeluk tubuhnya. Lengannya tepat diatas dada kanan Amel dan tangannya memegang tangan yang kirinya. Anjar mencium rambut pirangnya.
“Hmm, harum.”
“Terima kasih. Ohh dingin sekali,” keluh Amel sambil memutar tubuhnya dan memeluk lengan kanan Anjar, tubuhnya kini merapat kedada Anjar.

Kepalanya menyandar didada kakaknya. Kaki kanan Anjar berada antara pahanya. Sehingga Anjar dapat merasakan hawa panas yang muncul dari vagina Amel. Penis Anjar mulai mengeras. Amel dapat merasakan ketegangan yang menekan perutnya.
“Aku mencintai kamu Njar,” bisik Amel.
“Aku juga mencintaimu, Mel,” kata Anjar sambil mencium rambut Amel.

Amel memutar tubuhnya, wajah mereka saling berhadapan, matanya saling menatap. Pelahan Amel mendekatkan bibirnya dan Anjar pun merendahkan wajahnya. Kedua bibir mereka bertemu, lidah mereka saling menyentuh dan mengait.
“Hhh!” seru Amel sambil menghembuskan nafas berat.

Iklan Sponsor :

Tangan kanan Anjar merayap di bawah gaun Amel ke atas dan bukit dada telanjang Amel pun diremasnya dengan lembut. Kemudian Anjar menurunkan wajahnya, dan puting susu gadis itu dijilatnya.

” Oooh.. Aduh Ya Tuhan, Njar, ohh..” Keluh Amel sambil menarik nafas panjang.

Anjar menurunkan tangannya kebawah ke arah pangkal paha Amel, dan membelai celah-celah vagina Amel. Bagian tersebut terasa sangat panas dan basah. Anjar segera bangkit duduk, membuka kemejanya dan menurunkan celana pendeknya.
Amel pun membuka pahanya dan menempatkan tubuh Anjar diantara kedua pahanya. Vagina Amel terbuka lebar dihadapannya dan ini adalah untuk pertama kalinya bagi pemuda 19 tahun ini melihat bentuk liang perawan dalam jarak yang demikian dekat. Anjar segera menyentuh clitoris kecil yang mencuat itu dan kemudian menggosoknya pelahan-lahan dengan jarinya. Sambil menggosok clitoris adiknya itu, dia menjulurkan lidahnya dan dicucukkan lidahnya keliang vagina yang masih tertutup rapat itu. Amel merintih, mendesah sambil mengangkat-angkat pinggulnya. Tiba-tiba kakinya menegang dan menjepit, sehingga hampir mencekik leher Anjar ketika untuk pertama kalinya gadis usia 15 tahun ini mencapai orgasmenya. Setelah sekitar 30 detik tubuhnya melemas dan kemudian terkulai relax.
“Ohh, Aduh Ya Tuhan! Apa yang yang terjadi?” bisik Amel.
“Kupikir, kamu mencapai orgasme!” Jawab Anjar.
“Ohh Njar. Demi Tuhan aku mencintaimu!” kata Amel sambil mencium kakaknya dengan sangat mesra sekali.

Tubuhnya digesekkan dengan lembut ke Anjar, putingnya yang mencuat keras seperti menggaruk dada Anjar. Anjar segera merebahkan Amel dan memposisikan penisnya yang sudah sangat tegang itu di vagina adiknya, pelahan-lahan digesek-gesekkan ujung topi bajanya naik turun menyusuri celah yang sudah sangat basah itu, sambil berusaha untuk temukan liang perawan yang tersembunyi disana.
“Stop, tunggu dulu!” seru Amel tiba-tiba.
“Ada apa?”
“Aku masih perawan. Kudengar akan berdarah untuk pertama kali. Ambi handuk itu, aku tidak ingin seprei ini terkena noda.”

Anjar segera meraih handuk, melipatnya dua kali dan menggelarnya dibawah pinggul adiknya. Amel segera menempatkan pinggung ditengah handuk itu.

Iklan Sponsor :

“Ok kak, sekarang buat aku menjadi seorang wanita!”

Njar memposisikan ujung batang penisnya tepat digerbang liang perawan itu. Kemudian menekannya pelahan-Iahan. Amel memeluk pinggang kakaknya sambil pinggulnya menekan ke atas. Wajah Amel menyeringai, dahinya berkerut-kerut menahan sakit ketika pelahan-lahan ujung penis Anjar yang berbentuk topi baja itu menyeruak masuk keliang sempit itu. Akhirnya, diiringi dengan jeritan Amel, Anjar berhasil menembus selaput keperawanan adiknya itu dan batang penisnya yang 6 inci itu tenggelam seluruhnya keliang sempit itu.
“Aaahh, Aduuhh Ya Tuhan!”
“Kamu baik-baik Mel?” tanya Anjar khawatir.
“Yah, Aku sudah nggak apa-apa, ayo teruskan lagi, cuman jangan keras-keras ya.”

Anjar kemudian menggerakkan pinggulnya naik-turun pelan-pelan, pemuda itu benar-benar ingin menghayati pengalaman pertamanya ini, gesekan dinding vaginanya yang sempit itu, jepitan yang demikian ketat dan.. dia benar-benar tidak pernah menduga bisa senikmat ini.
Berna, ibu Anjar dan ibu Amel, mendengar suara gaduh dari ruang bawah, segera keluar kamar sambil meraih pemukul. Kemudian turun menuju ke lantai bawah, dan Berna segera tahu sumber kegaduhan itu terdengar dari dalam kamar anak gadisnya.

“Ya, ya, aduhh, ya, terus seperti itu.. Ohh, jangan stop. Ohh aahh,” terdengar desahan dan rintihan anak gadisnya.

Anjar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Dia angkat kaki adiknya kepundaknya sambil meneruskan gerakannya. Sekujur tubuh keduanya sudah mandi keringat. Tampak noda-noda merah menghiasi handuk dari cairan vagina yang bercampur darah keperawanan Amel.

“Aduh Mel, oohh, aku mencintai kamu Mel, aku mencintaimu.. Sepertinya aku mau keluar!”
“Ahh.. Ya Tuhan! aku juga aahh!”

Anjar semakin mempercepat gerakan pinggulnya, ujung penisnya terasa membentur-bentur dasar liang vagina Amel. Amel pun sepertinya sudah melupakan rasa sakitnya. Hanya sensasi-sensasi kenikmatan yang dirasakannya..

Ketika Anjar merasakan denyutan-denyutan di batang penisnya, dia tekan sedalam-dalamnya dan dia semburkan cairan spermanya didasar liang vagina adiknya itu. Dan bersamaan dengan itu Amel juga mencapai orgasmenya. Tubuh gadis itu sampai bergetar ketika denyutan-denyutan nikmat memancar dari dalam liang vaginanya dan ditambah lagi semburan sperma Anjar yang memancar berulang-ulang. Keduanya kemudian lemas terkulai sambil berpelukan, dan batang penis Anjar masih tertanam diliang vagina adiknya.
“Ohh Mel, Aku Mencintai Kamu, Mel.”
“Aku juga mencintai Kamu Njar.”

Kedua remaja itu tidak menyadari bahwa sejak tadi sepasang mata ibunya melotot mengawasi dari celah pintu.

“Aduh, Ya ampun!” batin Berna.
“Apa yang telah mereka lakukan? Sudah berapa lama hal ini telah berlangsung? Apakah mereka menggunakan kondom? Apakah mereka pernah melakukannya dengan anak-anak lainnya? Kenapa aku tidak melihat gelagatnya lebih awal?”

Pikiran Berna jadi kacau balau tidak karuan.

“Tapi tunggu, aku tidak yakin mereka pernah melakukan sebelumnya. Demikian pula rasanya tidak mungkin mereka pernah berhubungan dengan teman-teman mereka. Anjar tidak punya pacar, dan Amel juga tidak. Ohh.. Ya Tuhan, ini mungkin lebih baik buat mereka berdua. Anjar kakaknya Amel, dia sangat menyayangi adiknya itu, tidak mungkin dia akan menyakiti hati adiknya. Amel juga demikian menyayangi kakaknya.. Mereka memang saling menyayangi sejak kecil, dan sepertinya mereka akan lebih baik daripada berhubungan dengan orang lain. Dan seandainyapun Amel hamil, Anjar tidak akan meninggalkannya. Aku yakin, mereka akan selalu saling menyayangi selamanya.”

Dan sepertinya tidak ada tanda-tanda paksaan pada anak gadisnya itu. Amel sepertinya sangat menyenangi dan menghayati yang mereka lakukan. Bahkan mungkin dia yang memulainya. Memang mereka adalah kakak-beradik, tetapi Cinta adalah Cinta, dan ini adalah salah satu Cinta yang murni, yang tidak hanya berlangsung semalam, ataupun hubungan 2-bulan. Ini adalah hubungan cinta seumur hidup.

http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888
http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888

Anak Kuliahan


Gina Kuliah di salah satu Kulihan Swasta di Bandung dan dia adalah salah satu bintang kampus dan dia bisa dibilang anak mami. Kecantikannya menggoda sekali sehingga banyak laki-laki yang ingin menjadi pacarnya. Bisa dibilang Gina adalah PRIMADONA-nya kampus itu?

Pertama kali mengenal Gina pada saat aku sedang bermain Basket di salah satu Lapangan di Bandung Barat.
Waktu itu aku ingin sekali berkenalan dengannya tetapi aku sedikit malu-malu, soalnya cewek yang satu ini benar-benar cantik dan lain dengan yang aku liat dari biasanya. Gina seorang cewek Indonesia, kulit putih, tinggi 172cm dan ukuran dada 38A bisa dibilang lumayan untuk ukuran remaja yang baru berumur 19 tahun.

Aku akhirnya berkenalan dengan Gina walau aku malu-malu setengah mati, takut ditolak eh gak tahunya aku berhasil berkenalan dengannya!

“Hai… boleh kenalan ga cewek”, sapaku dengan sedikit percaya diri.
“Siapa yaahhh?”, jawab Gina.
“Saya Hendrik? Boleh kenalan ga, kamu siapa?”
“Boleh kok emank siapa yang ngelarang… Aku Gina.”
“Kuliah dimana?? Tanyaku sedikit basa-basi.”
“Ada deh”, Katanya sedikit manja.

Akhirnya kami ngobrol panjang lebar dan aku sedikit berani menanyakan nomor teleponnya.

Malamnya aku mencoba menelepon Gina dan pada saat itu Gina mengangkat teleponku.

“Halo ini Gina ya”, sapaku.
“Iya..ni sapa ya”, Gina menjawab.
“Ini aku Hendrik yang tadi siang berkenalan dengan kamu Gin”, kataku.
“Oh… iya?? ada apa Hen?”
“Engga aku cuma pingin ngobrol aja Gin… Ganggu ga?”
“Engga ganggu kok Hen… biasa aja sama Gina yah.”

Iklan Sponsor :

Aku mulai membuka topik pembicaraan meskipun sedikit canggung dan tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan. Lalu aku mulai memberanikan diri dengan menanyakan tentang kehidupan dia.

“Gina udah punya pacar?”, tanyaku.
“Belum Hen… dulu Gina punya pacar tapi Gina udah putus”, jawabnya.
“Lho putus gara-gara apa sya?”
“udah bosen aja”, jawab Gina polos.
“Gina besok aku pingin ketemuan sama kamu bisa ga?”, pintaku.
“Boleh kok Hen… mau ketemuan dimana?”
“Di BSM aja Gin mau??”, tanyaku.
“Boleh jam 3 sore yah pas Gina pulang Kuliah”, jawabnya.
“Ok… selamat malam Gin”, jawabku sebelum menutup pembicaraan.

Besoknya jam 3 sesuai kesepakatan kami bertemu di BSM… Gina berdandan sexy sekali pada saat itu dengan baju yang teramat sangat menggoda… Ingin sekali aku menyetubuhinya tetapi aku masih perjaka… tidak tahu caranya bagaimana ML…

Kami ngobrol panjang lebar sampai jam 6 sore sambil makan-makan… Tak terasa pada saat mau mengantarkan Gina pulang hujan turun deras sehingga aku menetap di mobilku.

Aku bertanya pada Gina,

“Mau es krim ga say?”, aku memanggil dia dengan sapaan “say”, eh ternyata dia juga balik meresponseku dengan perkataan
“mau donk say”. Cuaca saat itu mendukung sekali… cuaca hujan gerimis dan pada saat itu kami berdua di mobil.

Aku membelokkan mobilku ke parkiran mobil.Gina bertanya,

“Ngapain kita ke parkiran say?”
“Gak apa-apa kok say… aku cape aja”, aku mulai memandangi buah dada Gina yang pada saat itu menggoda sekali… ingin sekali aku menjilati puting susunya itu…

Gina melihatku dan ia berkata

Iklan Sponsor :

“Ikhhh.. Hendrik nakal liat-lihat perabotan Gina… bayar tauuuu!? Masa liat gratis, ga bayar”, ucapnya manja.

Aku hanya bisa tertawa dan dalam hatiku aku ingin sekali mengecup bibirnya… aku mulai memberanikan diri untuk mencium mulutnya walaupun Gina menolak tapi aku terus memaksa dan pada akhirnya dia tidak bisa mencegah aku untuk menciummnya. Aku melumat bibirnya dengan sangat lembut dan tak disangka Gina membalas ciumanku dengan ganasnya.
Gina bertanya kepadaku,

“Hendrik udah pernah ML belum?”
“Belum”, jawabku.
“Gina juga masih perawan Hen… Gina ga tau bagaimana caranya ML.”

Serasa sudah mendapatkan lampu hijau dari Gina, aku mulai memberanikan diri tuk membuka pakaiannya. Gina malah memberikan posisi tuk memudahkan aku membuka pakaiannya. Aku membuka branya yang warna hitam itu… WOW dada Gina yang berukuran 38A langsung aku kulum dan Gina berteriak kecil,

“Aaachh… geli Hen! Jangan cuma satu doank donk say… sebelahnya juga donk say”, aku mulai menjilati puting susu bagian sebelahnya.

Gina yang merasa bergairah mulai membuka pakaian dan celanaku. Aku pun juga membuka celananya dan kami berdua pun dalam keadaan telanjang bulat di dalam mobil. Pada saat itu tmpt parkir sedang mendukung: tidak ada satu orang pun yang melihat kami.

“Kulum kontolku donk say”, pintaku.
“Gina ga pernah ngelakuin ini satu kali pun Hen”, jawabnya.
“Aku juga blm pernah melakukannya Say… jadi kita sama kan”, kataku.
“Iya saya coba deh”, jawabnya.

Gina mulai mengemut kontolku dan dia merasa enjoy mengemut kontolku yang berukuran 19cm. Aku juga mengelus bibir vaginanya dengan tanganku. Dia mengerang, “emh..ehm..ehm..”, tanda dia mulai bereaksi pada sentuhan tanganku…
Aku yang tidak tahan dengan vaginanya. Aku mulai membaringkannya dan langsung menjilati vaginannya.

“Ouchh… nikmat bangat say,terusssss….achh..achh “, Gina mendesah dan aku terus menjilati klitorisnya dan pada akhirnya dia mendesah tidak karuan.
“Aahhhh… achhhhhh Hen akuuu keluarrrr…achhh?!”, keluarlah cairan putih dengan baunya yang khas.

Iklan Sponsor :

Gina tak mau kalah. Dia ingin mengulum kontolku. Kami melakukan gaya 69 di jok mobil belakang. Gina mengemut kontolku dengan ganasnya. Dikocok-kocok dan diemut dengan ganas. Maklum baru pertama kali kami melakukannya. Lalu aku yang sudah tidak tahan… aku mulai menyuruhnya merebahkan diri dan mengangkat pahanya sehingga tampaklah memeknya yang merah dan menggoda itu.

“Aku masukin ya say?”, tanyaku.
“Iya say tapi pelan-pelan yah… Gina masih perawan.”

Aku mulai memasukan kontolku ke liang vaginanya pelan-pelan. Sulit sekali memasukan kontolku ke liang vaginanya saking rapatnya. Gina berteriak,

“Ahhh… sakiiittt Hen!”.

Aku yang tidak peduli karena sudah terlanjur nafsu memulai melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan-pelan. Gina yang membalasnya dengan menjambak rambutku. Aku terus melakukan genjotan terhadap memeknya yang sangat nikmat itu…

“Ahhhh… sakittt Hen”, aku mulai mempercepatkan gerakan maju-mundur.

Gina berteriak, “Ahhhhhhhh”, aku mengeluarkan kontolku dari memeknya dan langsung keluarlah darah segar membanjiri jok mobil belakangku.

“Saay lanjut ga? Nih… aku belum apa-apa tau”, tanyaku…
“Iya say lanjut aja… Gina siap kok”, jawab Gina.

Lampu hijau nih… aku mulai memasukan kontolku ke memek Gina lagi… Gina sangat menikmati tusukan kontolku ke liang vaginannya.

“Say…Gin..ya kee…luarrr”, dan pada saat itu cairan putih itu keluar. Ternyata dia orgasme. Cairan putih itu membanjiri kontolku yang nikmat dijepit oleh dinding dinding memek Gina. Kontolku masih berada di dalam memek Gina.
“Kamu belum keluar Say?”, tanya Gina.
“Belum Say”, jawabku.

Aku meneruskan tusukan ke memek Gina dan Gina terus mengerang… suara teriakannya membuat aku tambah bernafsu.

“Aachh… achhh….achhhhh.achhhhhh..He…nnn… km heee..batt sayyy…”, dan tiba-tiba Gina mengeluarkan lagi cairan putih. Dia orgasme untuk yang kedua kalinya.
“Kamu belaum keluar-keluar juga Say. Cepat keluarin donk Say, udah malam”, pintanya.
“Ok say”, jawabku.

Aku mulai mempercepat gerakanku. Menggenjot memek Gina dengan sangat cepat.

“Acchh… achhh… achhhh… achhh”, Gina mendesah menikmati setiap tusukan kontolku yang belaum pernah dia rasakan sebelumnya. Aku yang hampir orgasme semakin mempercepat gerakan kontolku keluar masuk memek Gina.
“Sayyy… aku mau keluar nihhhhh”, ucapku.
“Keluarin di luar ya say jangan didalem”, pinta Gina.

Aku akhirnya orgasme dan mengeluarkan spermaku ke dada Gina yang lumayan besar itu.

“Ccroott… crootttt…”, aku menumpahkan ke dadanya dan sebagian ke mukanya.
“Thanks ya Say… kejadian ini ga bakalan aku lupain”, kata Gina.
“Sama-sama say… aku juga ga akan melupakan kejadian ini.”

Akhirnya kami selesai ML dan kami memakai pakaian kami kembali. Dan saatnya mengantarkan Gina pulang kami sempat berciuman pada saat aku mengantar dia sampai depan rumahnya.

Aku dan Gina tidak akan melupakan kejadian dimana aku melepas keperjakaanku dan dia memberikan keperawanannya. Kami tidak berhenti sampai disitu saja. Kami melakukannya lagi di rumahnya pada saat rumahnya sepi. Setidaknya aku dan Gina setiap akhir weekend diisi dengan ML.

Meskipun aku tidak ada hubungan apapun dengan Gina… meskipun aku sekarang sudah menetap di Ciparay dan aku sudah mendapatkan beberapa pelajaran dari cewek cewek yang ada disini tapi Gina telah memberikan pelajaran yang sgt berarti kepadaku.


http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888
http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888

Janda Muda Yang Cantik


http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888
http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888

Paling membuatku tidak tahan. Habis, Sasa punya pantat yang aduhai sangat merangsangku.

Apalagi kalau dia memakai celana panjang. Wuah.. kejantananku ini tegang minta ampun

sampai maksimum 18cm dengan diameter 5cm. Aku suka membayangkan melakukan senggama

dengannya dari belakang dengan menungging.

Aku juga ingin menikmati sex dengan adik ipar istri bossku, Nina. Aku terobsesi menikmati

tubuhnya yang sangat seksi. Adik ipar bossku ini lebih seksi segalanya dibandingkan Sasa

dan Ima manager keuangan. Kalau ke kantor.. wah selalu berpakaian seksi dan ketat.

Tubuhnya yang memang berbodi gitar, buah dadanya besar, ukuran 38B. Wah aku ngiler kalau

dia menemuiku dan bicara soal internet dan komputer. Aroma tubuh dan polah tingkahnya

sangat menantangku. Aku juga ingin menikmati tubuh Nia. Nia karyawan di bagian pemasaran.

Aku baru sampai pegang-pegangan tangan saja dengan Nia. Rambutnya sebahu, aku paling suka

dengan kedua buah dadanya yang besar juga.

Dengan Iama, aku baru sampai pegang paha dan cubit bagian atas buah dadanya dan dia diam

saja atau membalas manja kalau kami naik mobil. Dengan Sasa, aku baru sampai pada tahap

pegang-pegang tangan dan pinggang ketika aku mengoreksi pakaiannya yang seksi padahal aku

pengen memegang pinggang dan tubuhnya tiga minggu lalu. Sasa adalah peragawati di

kantorku. Tapi bak durian runtuh, aku malah bisa menikmati tubuh istri bossku yang tak

pernah kuduga.

Dengan kekasihku sekarang, aku belum pernah melakukan hubungan seks. Paling bercumbu

sampai aku telanjang dan dia tinggal celana dalamnya saja. Kuharap ini kekasihku yang

terakhir. Terus terang aku ingin menikahinya. Makanya aku tahan seksku padanya sampai

pernikahan nanti.

Dua bulan lalu, kira-kira jam sembilan malam, aku ditelepon istri bossku untuk menemuinya

di hotel Delima. Dari suaranya, pasti ada masalah dengan suaminya. Hampir jam sepuluh

malam aku baru sampai di lobby hotel. Dari lobby, aku kontak Mayang dan menyarankan aku

lewat lift dari basement dan langsung masuk ke kamarnya. Aku turun ke bawah dan dari sana

aku dengan lift naik ke lantai 9.

Aku memencet bel kamarnya dan dibuka oleh Mayang sendiri yang memakai kaos dengan bukaan

rendah dan celana pendek. Wah, aku terkesiap melihat bukaan dadanya yang makin montok

sehingga membuatku berpikir yang bukan-bukan dengannya. Di kantor, kalau aku menghadapnya

(Mayang juga direktur keuangan) aku seolah dibiarkannya melihat belahan dadanya. Bukannya

ditutup (mestinya bisa) dengan blasernya, tapi blaser diregakkan saja dan dibuka lagi

seolah membiarkan kedua belahan dadanya untuk kunikmati. Belahannya putih agak kecoklatan

dengan leher panjang. Wah.. aku menelan ludahku sendiri. Aku dipersilahkannya masuk dan

duduk.

“Dimana Edward, May..” kataku.

“Ooo suamiku ke Jakarta,” katanya.

“Ada apa sih May kok malam-malam begini?” Tanyaku.

Mayang mengambil dua minuman coke dan mematikan TV kemudian duduk di kursi dia menariknya

ke arah tempat tidur agak mengahadapku. Mayang menerahkan Coke padaku dan aku minum hampir

setengahnya. Mayang mulai gelisah dan aku bertanya lagi, “Ada apa May?”. Dengan menahan

tangis Mayang menceritakan WIL suaminya yang di Jakarta.

Mayang memang sudah tahu perselingkungan suaminya itu. Tadi sebelum ke Jakarta, Mayang

pesan agar Edward hati-hati. “Kurang apa sih aku ini,” katanya. “Aku istri baik,

memberikan padanya tiga anak.” Mayang menikah sangat muda dengan tiga anak. Anak yang

bungsu sudah kelas 1 SD. “Aku juga ikut senam dan membuat tubuhku tambah seksi,” katanya

melanjutkan sambil menangis. “Sejak suamiku punya WIL, aku dibiarkannya merana dua tahun

terakhir ini,” lanjutnya sambil menangis.

Aku terpaku mendengar itu semua, tidak tahu apa yang harus kukerjakan. Apalagi ketika dia

tambah menangis keras. Kedua tangannya menutup wajahnya yang tertunduk. Wah, untung

ruangannya kedap dan terkunci. Lalu kutarik kursiku dan duduk lebih dekat dengannya, di

depannya.

“May,” kataku memecah kesunyian. “Mayang sabar ya? Pasti ini akibat Puber ke dua,” kataku.

Aku memberanikan memegang pundaknya dan kepalanya. Mayang terdiam mendengar perkataanku

seolah membenarkan. Ko Edward usianya 45 tahun, Mayang 37 tahun usianya. Jadi kupikir

puber kedua setelah membaca buku psikologi yang pernah kupelajari.

Mayang memandangiku sebentar dan kemudian meledak tangisnya dan ya ampun, dia merebahkan

kepalanya di pahaku. Aduh, mati aku. Aku nggak bisa menahan sesuatu yang bergerak mengeras

di balik celanaku. Kuelus lagi kepalanya dan beberapa nasehat meluncur dari mulutku

sementara pikiranku macam-macam. Apalagi aku bisa melihat belahan pungungnya (karena pakai

kaos rendah). “Kok nggak pakai BH,” batinku. Kuraba kepala dan pundaknya, kulihat

tangisnya mereda walau belum selesai benar. Karena aku tidak tahan dengan birahi di

dadaku, aku telusurkan saja tanganku ke arah punggungnya yang terbuka bagian atas.

Aku saat itu sudah sangat sengaja melakukannya dengan takut-takut. Oh my God, Mayang diam

saja ketika aku melakukannya. Kuelus leher belakang, kepala belakangnya dan kuberanikan

mengangkat kepalanya dengan memegang kedua pipi dan telinganya dari samping. “Mayang,”

kataku sambil mata kami berpandangan. Kuambil sapu tanganku dan kuusap air mata di

wajahnya. “Bibirnya bagus sekali,” pikirku. Ini kali pertama aku melihatnya sedekat ini,

apalagi dia adalah direktur keuanganku. Kami berpandangan dan ya ampun, dia memejamkan

matanya dan membuka sedikit mulutnya. Aku ingat kekasihku kalau kami mau bercumbu, dia

pejamkan matanya dan bibirnya dibuka sedikit.

Kasihan Mayang, aku pikir pastilah suaminya sudah lama sekali tidak menjamahnya,

menyetubuhinya. Karena kesempatan itu datang, kuraih saja bibir Mayang. Kukecup beberapa

kali sebelum akhirnya aku mengulum bibirnya dan Mayang membalasnya. Oh God, aku dapat

durian runtuh malam ini. Pikiranku sudah dipenuhi dengan birahi dan ingin menikmati tubuh

Mayang di Hotel Santika malam ini. Ahh, lembut sekali bibirnya, kami menikmatinya dan

lidahnya, lidahku menari-nari. Kutelusuri lehernya yang panjang dengan mulutku sementara

tanganku memegangi tangannya, meremasnya.

Ahh, Mayang kegirangan menyambut cumbuanku. Dia pasrah. Apalagi ketika tanganku mulai

merambati pinggang dan menggapai kedua bukitnya, kuelus dari luar kaosnya yang tanpa BH

itu. Aku menikmati sementara mulutku menelusuri lehernya dan turun lagi memutari dada

atasnya. Mayang mendesah-desah dan mendesis kegirangan. Lalu kami berdekapan, kutuntun

Mayang ke arah tombol musik yang tersedia dan kuraih chanel yang tersdia di hotel. Kami

berdekapan lama sambil berdiri mengikuti irama musik instrument.

“Aku milikmu Jo, malam ini.” kata Mayang memecah kesunyian. Aku dipanggilnya dengan Jo,

seperti yang biasa dia lakukan di kantor. Dia berkata begitu sambil tangannya melepas

celanaku, bajuku dan semua yang melekat padaku. Aku telanjang di depannya. Didekapnya aku,

diraba dan elusnya batang kejantananku yang sudah mengejang keras. Jantungku serasa lepas.

Lalu kami bercumbuan lagi. Aku membalikkan tubuhnya dan kucumbui Mayang dari

belakang.Mulutku menelusuri lehernya, punggungnya, pipinya, telinganya dan dilingkarkannya

tangan Mayang di kepalaku, kulumat bibirnya.

Tanganku meremas kedua bukitnya dengan lembut dan membuat gumpalan itu makin mengeras.

Mayang menggeliatkan tubuhnya, melengkung ke depan. Ahh, pemandangan yang indah kulihat.

Kulepas kaos merahnya dan betapa indahnya kulihat buah dada Mayang, masih kencang dan

cukup besar, puntingnya berwarna coklat sangat ranum dan membuatku lebih terangsang untuk

memetik kedua buah dadanya yang siap panen dan kunikmati dengan mulutku.

Kubiarkan Mayang menikmati sensasi-sensasi yang kustimulasikan pada tubuhnya. Mayang

membiarkan aku meremasi lembut kedua buah dadanya. Kulihat Mayang memejam dan menggeliat-

geliat melengkung ke depan. Aku ingin menelanjanginya. Kuraih celana pendeknya dan

kulorotkan ke bawah, Mayang melepas sendiri. Aku sekarang melihat gundukan pink di balik

celana dalamnya. Kuraba gundukan itu dan Mayang bertambah menikmati dengan desah dan

geliatnya. Kustimulasi dengan kedua tanganku sesaat dan akhirnya tanganku kumasukkan ke

celana dalamnya, kulepaskan dan sekarang aku benar-benar melihat Mayang telanjang di

dekapanku.

“Basah May,” kataku.

“Iya, aku sudah nggak tahan Jo. Aku sangat menikmati cumbuanmu sampai sekarang, dan aku

ingin kau membuatku terpuaskan Jo. Ayo lakukanlah..” Pinta Mayang dengan manja padaku.

“Tapi May.. aku..” aku ingin katakan bahwa aku belum pernah melakukannya pada wanita.

Gelora birahi di dadaku memuncak dan batang kejantananku sudah tidak tertahankan lagi.

Mayang kupeluk erat dan membiarkan kepalanya bersandar di dada kiriku. Ahh, manja sekali

Mayang ini, pikirku. Kukecup pipinya, dahinya. Kukecup telinganya dan Mayang sangat

menikmati sensasi gelora seks yang kulakukan padanya. Kubalikkan tubuhnya lagi dan Mayang

berhadapan denganku. Aku mencumbuinya lagi.

Dibiarkannya mulutku menelurusi leher dan dadanya. Aku hampir tidak tahan menahan geliat

tubuhnya. Apalagi ketika aku sampai di dadanya. Ahh, aku sangat menikmati kedua buah

dadanya. Kuputar lembut dan membuat Mayang membusungkan dadanya sehingga aku semakin

leluasa. Lenguhan, desahan dan geliatnya makin membuat birahiku meledak-ledak. Kupaguti

bergantian kedua buah dadanya. Kukulum kedua puntingnya bergantian dan membuat tubuh

Mayang makin menggeliat dan akhirnya aku tidak kuat lagi menahan tubuhnya, kubiarkan

terjatuh di tempat tidur.

Kubiarkan Mayang makin ke tengah tempat tidur, aku memandangi tubuhnya yang indah. Mayang

membuat gerakan-gerakan yang menandakan letupan birahinya sehingga membuatku sangat

terangsang. Apalagi ketika dibukanya kedua kakinya dengan diangkat pahanya. Betapa

menggairahkan. Kulihat gundukan hitam di puncak selangkangannya. Malam ini, pastilah akan

menjadi malam pertamaku menyetubuhi wanita dan Mayang lah yang akan membuatku tidak

perjaka lagi. Ini tekadku malam ini. Aku ingin memberinya kesan dan sensasi yang mendalam

tentang diriku.

Kudekati tubuh Mayang dari samping. Tangannya menarikku. Kucumbui Mayang lagi. Aku

mencumbuinya dari atas ke bawah dengan tubuhku merambat di atasnya. Kunikmati kedua

bukitnya dengan leluasa dan tanganku menggapai kedua kakinya menelusuri liang senggamanya,

membuat Mayang menggeliat mendesah lagi. Kutelusuri perutnya akhirnya aku sampai di liang

senggamanya. “Oh, wangi sekali,” pikirku. Tapi belum sempat aku bertindak lebih lanjut,

diraihnya batang kejantananku dan dikulumnya. Aku mendesis kenikmatan. Disedotnya batang

kejantananku hingga masuk penuh di mulutnya. Ohh, ini pertama kali mulut wanita mengulum

batang kejantananku. Betapa nikmatnya sampai aku hanya bisa berkata “Ooohh May.. ahh..”

dan pinggulku tergoyang-goyang mengikuti sensasi yang Mayang berikan melalui batang

kejantananku.

“Oooh May, saya nggak kuat, mau keluar May,” kataku.

Tapi tak ada sahutan. Yang ada hanya hisapan dan kuluman yang makin membuat batang

kejantananku mengeras. Aku mencoba menahan diri dengan menikmati liang senggamanya dengan

mulutku. Akhirnya aku tidak tahan dan kumuntahkan sperma hangatku penuh di dalam mulut

Mayang. Aku terdiam.. inikah namanya orgasme? Kulihat Mayang sangat menikmati dengan apa

yang baru saja terjadi.

“Thanks ya May,” kataku. Dia hanya tersenyum tipis dan memelukku. Kucumbui lagi Mayang dan

aku sangat suka menikmati kedua buah dadanya dengan putingnya yang ranum. Hal ini membuat

Mayang bergelinjang kenikmatan. Kalau mulutku memaguti dan menggulumi yang kiri, tangan

kananku meremas lembut yang kiri, begitu sebaliknya. Aku seperti bayi yang menikmati ASI

dari samping. Kulihat gerakan kakinya yang merangsangku. Lalu sambil mulutku mengulum buah

dadanya, kujulurkan tanganku menggapai liang senggamanya. Mayang makin menikmati

permainanku ini. Kuelus liang senggama dan sekitarnya, membuat gerakan kakinya membuka

lebar, semakin lebar menantiku menyetubuhinya.

Kurasakan liang senggamanya yang makin membasah dan akhirnya ketika kedua kakinya masih

mengangkang, aku bergerak dan berada diantara kedua kakinya. Kupandangi liang senggamanya

dan kunaikkan kaki kirinya, aku menciumi pahanya lembut menukik ke bawah dan akhirnya aku

mencumbui liang senggamanya. Kepalaku diremas-remas dan ditekannya, kudengar geliat dan

desahnya makin menjadi-jadi. Kedua kakinya terbuka lebar di depanku. Aku sangat menikmati

liang senggamanya. Ini kali pertama aku mencumbui liang senggama wanita. Aku mulai

merasakan cairan dan membuatku makin terangsang dan Mayang memintaku agar aku segera

menyelesaikannya.

Ditaruhnya kedua kakinya di pundakku dan batang kejantananku yang sudah kembali menegang

kutuntun memasuki liang senggamanya. Kumasukkan sedikit demi sedikit dan kuputarkan di

seputar liang senggama Mayang yang membuatnya melenguh kenikmatan sejadi-jadinya. Aku

memasukkan lagi dan lebih dalam lagi dan akhirnya tertanam penuh di liang senggama Mayang.

Kupegangi kedua tangannya, aku diam sejenak merasakan sensasi kenikmatan di sekeliling

batang kejantananku, lalu kugoyangkan lembut sementara mulutku menikmati kedua puting

susunya bergantian.

Aku terus menggoyang lembut di seputar dinding kemaluannya. Aku merasakan Mayang mau

orgasme. Kupercepat goyanganku dan kudengar suara teriakan tertahan, tubuh Mayang

mengejang dan menjepit batang kejantananku kuat-kuat. Seketika itu aku merasakan spermaku

mau keluar lagi. Akhirnya aku menikmati saat akhir yang sangat menggairahkan. Mayang

mencapai orgasme, juga aku. Aku merasakan sangat kenikmatan. Aku tidak perjaka lagi.

“Thanks ya May,” kataku. Kukatakan itu ketika aku mengecup telinganya, bibirnya, dahinya

dan menelusuri lehernya juga dadanya yang meninggalkan warna kemerahan. Tangannya masih

agak menggelepar di kanan kiri seperti pelepasan.

“May, ini kali pertama aku menyetubuhi wanita,” kataku melanjutkan. Mayang tersentak dan

aku meyakinkannya.

“Mayang lah yang merenggut keperjakaanku malam ini,” kataku sambil mengecup dahi dan

pipinya.

Aku dipeluknya erat lagi dan aku membalasnya.

Malam itu aku tidur di hotel sampai pagi dengan kehangatan tubuh Mayang di pelukanku.

Rasanya tubuh Mayang menjadi selimut hangat buatku. Pagi-pagi aku pulang ke rumah dan

masuk kerja seperti biasanya walau aku merasa ngantuk. Tapi aku minum obat penguat agar

tidak ngantuk dan terbukti cukup kuat menahan rasa kantukku. Apalagi juga dengan

kedatangan Mayang. Senyumnya sungguh beda. Aku suka. Dan lagi-lagi aku sangat tertarik

dengan kedua buah dadanya yang pagi itu nampak lebih mempesona buatku. Mayang sepertinya

bangga. Aku diteleponnya dari ruangannya dan berkata terima kasih dan senang karena dapat

membuatku tidak perjaka lagi.

“Gila!” Pikirku. Pengalaman dengan Mayang membuatku makin terobsesi menikmati tubuh gadis

dan istri orang di kantorku. Aku ingin menikmati tubuh Sasa. Aku ingin menyetubuhi Ima,

Nia dan Nina adik ipar Mayang. Aku ingin menikmatinya. Dan sudah kurencanakan di hotel

dekat dengan rumahnya. Aku sudah belikan dia daster hitam untuk dipakai nanti dan dia

menerimanya dengan suka hati. Ada hotel berbintang disana.

http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888
http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888


Rabu, 16 Maret 2016

“Ohh, Mas, Enak Mas, Enjot terus mas”


http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888

 Suatu hari pak Beni mengajak ke 2 balitanya berlibur kerumah neneknya diluar kota untuk beberapa hari. aku tidak diajak. Tahu bahwa abangnya tidak mengajak aku ikut berlibur, mas Budi senyum2 saja kepadaku, “Nes, ada kesempatan nih. Mas Beni pergi dengan anak2 dan kamu gak ikut. Kita juga liburan yuk”, ajaknya. “Mau kemana mas”, tanyaku. “Temenku, Adi, ngajak ke villanya. Dia mau ajak ceweknya, Santi. Kamu ikut ya. Kita have fun lah disana. Mau kan”, katanya sambil tersenyum. Aku hanya tersenyum dan mengganggukkan kepala.

Sorenya, mas Adi datang menjemput. Aku diperkenalkan ke mas mas Adi dan dia memperkenalkan Santi ke mas Budi dan aku. Mas mas Adi ganteng juga. Santi, montok banget. Masih abg banget, kayanya lebih muda dari aku. Manis juga anaknya, mengenakan jeans ketat dan tank top yang juga ketat sehingga menonjolkan lekuk liku badannya yang merangsang. Tangannya berbulu panjang dan terlihat ada kumis tipis diatas bibir cewek itu. Pasti jembutnya lebat sekali dan cewek yang kaya begini yang disukai cowok2. Aku mengenakan blus dan rok mini. mas Adi tampak mengagumi keseksianku walaupun ada cewek yang gak kalah montok disebelahnya. Memang aku mengenakan blus yang belahan dadanya rendah sehingga belahan toketku menyembul keluar. “Berangkat yuk”, kata mas mas Adi. “Nes, mas Adi dari tadi ngeliatin kamu terus tuh” kata mas Budi berbisik.”Ah.. Masa sih” jawabku tertawa. “Iya tuh.. Lihat aja di kaca spion”. Memang terkadang mas Adi melirik kaca untuk melihatku yang duduk di kursi belakang bersama mas Budi.Villanya tidak terlalu jauh. Karena sudah malem, kita mengisi perut dulu. Mas Adi membawa juga makanan dan minuman untuk camilan di vila. Sesampai di vila, hari sudah gelap. Langsung berbagi kamar, masing2 dengan pasangannya. Setelah memasukkan barang bawaan ke kamar masing2, kita ngobrol ber 4 di ruang tamu. Mas Budi kayanya udah horny berat. Dia memelukku, mengelus2 rambutku dan pahaku yang tidak tertutup rok miniku yang tersingkap. Dia berbisik ngajak aku masuk kamar. Aku ngikuti aja. “Duluan ya”, kata mas Budi kepada temannya.

Di kamar, dengan ganas mas Budi segera memelukku dan mencium bibirku dan menjilati leherku. Belahan toketku diusap2nya, blusku dibukanya, sehingga aku hanya mengenakan bra yang tipis. Pentilku tampak menonjol, sudah mengeras. Perlahan dia menciumi toketku. Aku mulai mendesah perlahan ketika pentilku dihisapnya dari balik braku. Setelah puas menikmati toketku, dia menciumku kembali. “Kamu gantian dong, hisap kontolku” katanya lagi. Kubuka retsleting celananya sekaligus dengan CDnya, sehingga kontolnya yang sudah tegang membengkak mencuat keluar. Kontolnya mulai kukocok-kocok perlahan. Dia mendorong kepalaku ke arah kontolnya. “Isep Nes”, desahnya ketika mulutku mulai mengulum kepala kontolnya. Kontolnya kukocok2 perlahan. “Nikmat Nes” erangnya. Dia menyibakkan rambut yang menutupi wajahku. “Terus Nes, enak banget, ” katanya lagi. Akupun mengeluarkan kontolnya dari mulut dan mulai menjilatinya. Kemudian kontolnya kujejalkan dalam mulutku. Dia mengelus-elus rambutku, ketika mulutku memompa kontolnya. Dia sudah sangat bernapsu sekali. Rok dan cd ku dilepasnya sehiongga aku telah bertelanjang bulat. Dia duduk dikursi dan aku disuruhnya duduk di atas pangkuannya sambil menghadap memunggunginya. Dia melepaskani baju yang tersisa. Dia menciumi pundakku, dan mengarahkan kontolnya yang sudah berdiri tegak ke nonokku. “Ohhmas, besarnya. Enak, ahh, entotin Ines mas”, desahku. Dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku, gerakannya terbatas karena aku ada pangkuannya. Toketku yang berayun-ayun seirama enjotannya diremasnya. “Ohh, Mas, Enak Mas, Enjot terus mas” kataku sambil melingkarkan tanganku ke belakang merengkuh kepalanya. Dia menciumku bibirku sebentar dan kemudian menghisap toketku sambil terus mengenjot nonokku. “Ohh mas, enak banget, besar banget” eranganku semakin menjmas Adi, dan tak lama aku pun menjerit. Tubuhku menggelinjang-gelinjang dalam dekapannya. Tak lama, diapun mengerang nikmat ketika ngecret dalam nonokku. Kamipun melepas lelah sejenak sambil berciuman kembali. “Enak ya Mas” kataku.

Aku masuk kekamar mandi yang menjadi satu dengan kamar tidur. Selang beberapa saat aku keluar lagi hanya mengenakan lilitan handuk dibadanku tanpa pakaian lainnya lagi. “Udah siap lagi ya Nes”, mas Budi menggangguku. “Iyalah mas, kan kita kesini untuk ngentot. Kata mas mau ngentotin Ines sampe 4 kali”, jawabku. Belahan dadaku sedikit tersembul dibalik handuk yang menutup dada serta pahaku. Melihat itu sepertinya dia napsu lagi. Luar biasa juga staminanya, gak puas2nya dia ngentoti aku. Kontolnya sudah berdiri tegang. Dia berbaring di ranjang. “Mas, ngelihatnya kok begitu amat sih ?” kataku. “Nes, sudah malam nih, kita tidur saja” katanya.”Mau tidur atau nidurin Ines mas”, godaku. “Tidur setelah nidurin kamu lagi dong”, jawabnya. Aku berbaring disebelahnya, segera lilitan handukku dilepaskannya sehingga telanjang bulatlah aku. Toketku dielus2nya. “Nes, kamu seksi sekali, mana binal lagi kalo lagi dientot. Kalo mas Beni dan anak2 pergi melulu, aku bisa ngentotin kamu tiap malem”, katanya merayu. Aku hanya tersenyum, tidak menjawab rayuannya. Elusan tangannya di toketku berubah menjadi remasan remasan halus. “Mas “, aku memeluknya. Dia memelukku juga serta mencium bibirku. Dia begitu menggebu gebu melumat bibirku, kujulurkan lidahku kedalam mulutnya. Nafasku menjadi cepat serta tidak beraturan. Setelah beberapa saat kami berciuman, aku menggeser badanku sehingga sekarang sudah berada di atas badannya. Dia semakin ganas saja dalam berciuman. Dia memeluk badanku rapat2 sambil menciumiku.

Kemudian aku menciumi lehernya dan terus turun kearah dadanya. Dia berdesis “Nes, sshh”. Aku terus menciumi badannya, turun ke bawah dan ketika sampai disekitar pusarnya, kucium sambil menjilatinya sehingga terasa sekali kontolnya kian menegang. “Nes, aduuh” dan aku secara perlahan terus turun dan ketika sampai disekitar kontolnya, kucium dan kuhisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya. “Sshh, Nes” katanya lagi. Kontolnya sudah ngaceng keras sekali, mengacung ke atas. Kupegang kontolnya dan kukocok pelan pelan. Kontolnya kumasukkan kemulutku. “Aahh”, teriaknya keenakan. Aku segera menaik turunkan mulutku pelan2 dan sesekali kusedot dengan keras. “Nes, enaak. Ayo dong Nes. Sini, aku juga kepingin” , katanya sambil menarik badanku. Aku mengerti kemauannya dan kuputar badanku tanpa melepas kontolnya dari mulutku. Posisi nya sekarang 69 dan aku berada diatas badannya. Nonokku yang dipenuhi jembut yang lebat dijilatinya. Aku menggelinjang setiap kali bibir nonokku dihisapnya. Dengan mulut yang masih tersumpal kontolnya aku bergumam. Dia membuka belahan nonokku pelan2 dan dijulurkannya lidahnya untuk menjilati dan menghisap hisap seluruh bagian dalam nonokku. Kulepas kontolnya dari mulutku sambil mengerang, “mas, ooh”, sambil berusaha menggerak gerakkan pantatku naik turun sehingga sepertinya mulut dan hidungnya masuk semuanya kedalam nonokku. “Maas, terus maas” Apalagi ketika itilku dihisap, aku mengerang lebih keras “maas, teeruuss”. Itilku terus dihisap hisapnya dan sesekali lidahnya dijulurkan masuk kedalam nonokku. Gerakan pantatku semakin menggila dan cepat, semakin cepat dan akhirnya Mas, aku nyampee”, sambil menekan pantatku kuat sekali kewajahnya. Aku terengah engah. Perlahan lahan dia menggeser badanku kesamping sehingga aku tergeletak di tempat tidur. Dengan masih terengah2 aku memanggilnya, “Mas peluk Ines, maas” dan segera saja dia memutar posisi badannya lalu memelukku dan mencium bibirku. Mulutnya masih basah oleh cairan nonokku. “Maas”,kataku dengan nafas nya sudah mulai agak teratur. “Apa Nes”sahutnya sambil mencium pipiku. “Maas, nikmat banget ya dengan mas, baru dijilat saja Ines sudah nyampe”, kataku manja. “Nes sekarang boleh gak aku… “, sahutnya sambil meregangkan kedua kakiku.

Mas Budi mengambil ancang2 diatasku sambil memegang kontolnya yang dipaskan pada belahan nonokku. Perlahan terasa kepala kontolnya menerobos masuk nonokku. Dia mengulum bibirku sambil menjulurkan lidahnya kedalam mulutku. Aku menghisap dan mempermainkan lidahnya, sementara dia mulai menekan pantatnya pelan2 sehinggga kontolnya makin dalam memasuki nonokku dan blees, kontolnya sudah masuk setengahnya kedalam nonokku. Aku berteriak pelan “aahh maass”sambil mencengkeram kuat di punggungnya. Kedua kakiku segera kulingkarkan ke punggungnya, sehingga kontolnya sekarang masuk seluruhnya kedalam nonokku. Dia belum menggerakkan kontolnya karena aku sedang mempermainkan otot2 nonokku sehingga dia merasa kontolnya seperti dihisap hisap dengan agak kuat. “Nes, terus.Nes, enaak sekalii, Nes”, katanya sambil menggerakkan kontolnya naik turun secara pelan dan teratur. Aku secara perlahan juga mulai memutar mutar pinggulku. Setiap kali kontolnya ditekan masuk kedalam nonokku, aku melenguh “sshh maass”, karena kurasakan kontolnya menyentuh bagian nonokku yang paling dalam. Karena lenguhanku, dia semakin terangsang dan gerakan kontolnya keluar masuk nonokku semakin cepat. Aku semakin keras berteriak2, serta gerakan pinggulku semakin cepat juga. Dia semakin mempercepat gerakan kontolnya keluar masuk nonokku. Aku melepaskan jepitan kakiku di pinggangnya dan mengangkatnya lebar2, dan posisi ini mempermudah gerakan kontolnya keluar masuk nonokku dan terasa kontolnya masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian kurasakan rasa nikmat yang menggebu2, kupeluk dia semakin kencang dan akhirnya “ayo mass, Ines mau keluar maas”. “Tunggu Nes, kita sama sama”, sahutnya sambil mempercepat lagi gerakan kontolnya. “Aduhh maas, Ines nggak tahaan, maaas, ayoo sekarang”, sambil melingkarkan kembali kakiku di punggungnya kuat2. “Nes, aku jugaa”, dan terasa creeeeeeet…creeeeeet… crrreeettt..pejunya muncrat keluar dari kontolnya dan tumpah didalam nonokku. Terasa dia menekan kuat2 kontolnya ke nonokku. Dengan nafas yang terengah engah dan badannya penuh dengan keringat, dia terkapar diatasku dengan kontolnya masih tetap ada didalam nonokku. Setelah nafasku agak teratur, kukatakan didekat telinganya “Mas, terima kasih ya. Ines puas banget barusan,” sambil kukecup telinganya. Dia tidak menjawab atau berkata apapun dan hanya menciumi wajahku. Setelah diam beberapa lama lalu aku diajaknya membersihkan badan di kamar mandi dan terus tidur sambil berpelukan.

Paginya aku terbangun kesiangan. Mungkin karena cape dientot aku tidur dengan pulas. Ketika terbangun dia sudah tidak ada disebelahku. Aku ke kemar mandi, membasuh muka dan sikat gigi, kemudian dengan bertelanjang bulat aku keluar kamar. Mas Budi sedang ngobrol dengan mas Adi dan Santi. Aku segera masuk ke kamar lagi, walaupun mas Adi sempat ternganga melihat kemolekan badanku yang telanjang. Aku mengenakan kimono punya mas Budi, sehingga kebesaran. Aku bergabung dengan mereka dimeja makan. Aku mengambil roti dan membuat kopi, yang lainnya kelihatannya sudah selesai sarapan. Mereka menemaniku sarapan sambil ngobrol santai. Kayanya Santi centil banget ngobrolnya dengan mas Budi. Setelah aku selesai sarapan, mas Adi mengajak berenang. Segera aku mengenakan daleman bikiniku. Mas Adi makin menganga melihat jembutku yang nongol dari balik CD minimku. “Nes, jembutnya lebat sekali”, katanya. “Suka kan mas ngeliatnya”, jawabku. “Jembut Santi juga pasti lebat, lebih lebat dari jembutku”. Santi sudah memakai bikininya juga. toketnya yang montok tidak tertutup oleh bra bikininya yang kekecilan, dan jembutnya benar lebih lebat dari jembutku, nongol dari samping dan atas CD bikininya yang sangat minim, lebih minim dari CDku. Mas Budi kayanya napsu banget lihat bodinya Santi. Aku mengerti sekarang skenarionya, kayanya mas Budi mau ngentot dengan Santi dan aku akan dientot mas Adi. Kulihat mas Adi menelan ludahnya memandangi bodiku. Mas Budi hanya memakai celana pendek dan kelihatan sekali kontol besarnya sudah ngaceng dengan keras. Mas Adi melepaskan pakaiannya sehingga hanya mengenakan CD saja. kontolnya juga sudah ngaceng, kelihatannya besar juga walaupun tidak sebesar kontol mas Budi. Kami menuju ke kolam renang di kebun belakang. Ada 2 dipan, dan letaknya berjauhan, di masing2 sisi kolam. Aku memilih salah satu dipan. Mas Budi sudah mulai menggeluti Santi di dipan satunya. mas Adi duduk disebelahku yang sudah berbaring di dipan. Dia mulai mengelus2 pundakku. Aku tau, dia pasti sudah napsu sekali. Segera saja kuelus2 kontol mas Adi dari luar CDnya, kemudian kuremas perlahan. “Kontol mas besar juga ya”, kataku sambil makin keras meremas kontolnya. Tanganku menyusup kedalam CDnya dan langsung mengocok2 kontolnya. ngacengnya sudah keras banget. “Aku lepas ya CD nya”, kataku sambil memelorotkan CDnya. Kontolnya yang lumayan besar langsung ngacung keatas. Aku udah gak sabar pengen merasakan kontolnya keluar masuk nonokku. Aku duduk dan memeluknya serta mencium bibirnya. Mas Adi langsung memelukku kembali, bibirnya pun menghisap2 bibirku sedang tangannya mulai meremas2 toketku yang sudah mengeras. Tangannya nyelip kedalam bra ku dan memlintir pentilku yang juga sudah mengeras. “Nes sudah napsu ya, pentilnya sudah keras. Nonoknya pasti udah basah ya Nes”, katanya lagi. Sepertinya dia sudah pengalaman juga dalam urusan perngentotan. Aku mulai menyentuh dan mengelus kontolnya “ya, pegang Nes” desisnya. Mas Adi sekarang yang berbaring sedang aku menelungkup diatasnya. Kontolnya mulai kujilat, kukocok sambil meremas biji pelernya. “Aku isep ya kontol mas, gede juga” kataku sambil menurunkan kepalaku dan memasukkan kontolnya ke mulutku. “Ohh sshh, nikmat banget Nes” erangnya. Aku menjilati kepala kontolnya, kuisep sambil terus kukocok2. Sesekali kumasukan semua kedalam mulutku sambil kukenyot. “Oohh, enak banget Nes” teriaknya keenakan. Aku berhenti menghisap kontolnya tapi terus kukocok2.”Isep lagi Nes, isep lagi, enak banget” katanya. Kembali kontolnya kukocok sambil kupelintir pelan. “sshh, ohh, eennaakk bbannggett Nes. enak banget, terus Nes” desisnya. Aku terus melakukan aktivitas tanganku. “Nes isep lagi donngg.. jangan pake tangan aja..ayo donk Nes” pintanya memohon. Aku hanya tersenyum dan mulai menghisap lagi. Kali ini benar benar hot isapanku, kepalaku bergoyang kekiri kanan dan naik turun berkali kali sementara tanganku terus mengocok dan memutar batang kontolnya. “Nes aku mau keluarr nih” katanya. Badannya mulai menegang. Aku terus menghisap kontolnya sambil terus memutar dan mengocok batang kontolnya yang makin menegang keras. “Terus Nes, isep terus” jeritnya. Aku terus menghisap kontolnya dan akhirnya “ccrreett.. ccrreett.. ccrreett..”, pejunya muncrat dimulutku. kontolnya terus kuhisap. Terasa dia ngecret 5 kali didalam
mulutku. pejunya kuludahkan dan kubersihkan mulutku yang belepotan sisa pejunya. Dia duduk disebelahku dan mencium pipiku “Makasih ya Nes, enak banget deh” katanya sambil mencium pipiku lagi. “Ya udah mas istirahat dulu, Ines mau ambil minum dulu, mas mau minum apa?” tanyaku sambil menuju dapur. “Apa aja deh, nanti juga aku minum” jawabnya. Aku kembali dengan dua gelas minuman dan sebotol besar air mineral. Aku dan dia minum sambil nonton mas Budi yang sudah mulai ngentotin Santi. terdengar Santi teriak2 keenakan ketika kontol besar mas Budi keluar masuk mengejot nonoknya. Mas Adi memeluk pinggangku serta mencium leherku. “Sshh” aku mendesis. Tangannya meraba toketku, diremasnya pelan. Aku terangsang, yang sudah mulai berkobar sejak aku ngisep kontolnya, “Diremes2 dong mas, masa diraba doang sih” aku mulai mengerang.

Aku ditelentangkannya, bibirku dilumatnya. Aku balas mencium dengan penuh napsu. kontolnya kuelus dan kukocok lagi, ternyata sudah ngaceng lagi. Dia terus meremas toketku dan mulai
menjilati leherku lalu turun dan terus turun mencium belahan dadaku. “teruuss, buka braku mas, bbuukkaa!” kataku setengah berteriak. Dia terus turun menciumi badanku, dia menciumi nonokku dari balik CDku yang sudah basah karena lendir yang keluar dari nonokku. “aayyoo mas buka!” teriakku. Tapi dia terus menjilati kaki kiri dan pindah ke kaki kanan. Kembali dia mencium bibirku. Aku membalas ciumannya dengan penuh napsu. Dia menjilati telingaku. Pintar juga dia
merangsang napsuku. toketku kembali diremas2nya. Tangan satunya terus menggosok itilku dari balik CDku. “Buka donk, sshh, Ines udah ngga tahan nih” desahku. Dia terus saja meraba, menjilat serta mencium toket serta nonokku. “Mas jahil ya” kataku sambil mencium bibirnya dengan hot. Kontolnya mulai ku remas dan kukocok. “Isep Nes. aku pengen diisep lagi” katanya sambil sedikit menarik kepalaku mendekati kontolnya. Aku terus mengocok sementara mulut dan lidahku terus menghisap dan menjilat kontolnya. Dia tidak tahan lagi, segera aku ditelentangkannya, sambil mencium leher dan pundakku. toketku diremasnya dan tangan satunya meraba nonokku. “Ngentot yuk. Ines udah ngga tahan lagi” desisku. Dia menarik ikatan braku dan juga CDku. toketku langsung diisepnya “iisseepp pentilnya, maas” desahku. Kemudian tanganku mendorong kepalanya kebawah “Jilat nonok Ines mas” desahku keenakkan karena dia sudah menjilati itilku dan menumpangkan kaki kiriku kepundaknya. Dia terus menjilati nonokku dan memasukan lidahnya dalam-dalam. “tteerruuss mas, yang dalem. Oohh Ines uuddaahh mmauu klluuaarr nniihh” jeritku sambil terus menekan kepalanya. Dia terus menghisap dan menjilati nonokku. “Ines nyampe, isep tteerruuss nonok Ines” aku bergetar dan menggelinjang menikmati jilatan-jilatan lidahnya di nonokku.

Dia dan menaiki aku.. tangannya memegang kontolnya dan mengarahkan ke nonokku. Ditekannya masuk. “kontol mas enak banget sih. Oohh, entotin Ines mas ” jeritku keenakan. Dia meremas pantatku dan tangannya yang satu lagi meremas toketku. Sebentar saja dienjot aku merasa sudah mau nyampe. “Ines udah mau nyampe, yang keras dong ngenjotnya, mas”, kataku. Mas Adi mencabut kontolnya, aku disuruhnya nungging dan kontolnya kembali disodokkan ke dalam nonokku dengan keras, langsung ambles semuanya. Nikmat sekali rasanya. Kembali dia mengenjotkan kontolnya dari belakang keluar masuk nonokku dengan keras. Berulang kali dia mengenjot kontolnya sehingga mentok di nonokku. “Nes. aku mau ngecret” jeritnya. “Bareng ya mas, Ines keluar”, aku menjerit panjang sementara dia makin memperkeras enjotannya. Akhirnya “Nes, aku mau ngecret”, jeritnya dan pejunya kembali muncrat, kali ini membanjiri nonokku. Aku telungkup dan dia menindihku. Lemes juga dientot pagi2 begini. Dia telentang, aku juga.

Sambil berbaring aku menoleh ke arah mas Budi, sepertinya mas Budi belum tuntas ngentotnya, gak tau kalo Santi udah nyampe atau belum. Mas Budi sepertinya mau mulai menancapkan lagi kontol besarnya ke nonok Santi yang terkapar di dipan. Dia meraba nonoknya dan sepertinya memainkan itilnya. Santi berdesah gak karuan “Mas, jilat mas!” Mas Budi kemudian menjilat dan pastinya mengulum itilnya. Santi ditunggingkan dan mas Budi berlutut di belakangnya dan menggesekkan kontolnya ke nonok Santi.”Mmaassuukkiinn mmaass”, jeritnya saat kontol mas Budi masuk ke nonoknya yang sudah basah.”teruss mas teruss, entotin Santi terus”. Mas Budi menggenjot Santi dengan ritme teratur. Setelah beberapa lama dengan doggy style “Santi nyampe mas”, jeritnya keenakan. Santi kemudian ditelentangkan dan mas Budi mengangkat kedua kakinya dan ditaruh dipundaknya. Dia kembali kontolnya dan menggenjot Santi lagi. Santi kembali mendesah2. Mas Budi meremas toketnya yang montok dan Santi terus mendesah “Mas nikmat banget mas, terus enjot yang keras mas, aah”, jeritnya lagi, rupanya Santi kembali nyampe. Cepet banget, pikirku. “Mas, nikmat banget ya ngentot sama mas, mana mas kuat banget ngentotnya. Santi sudah berkali2 nyampe, mas belum ngecret juga”, kata Santi sambil terengah2.

Mas Budi mencabut kontolnya yang masih keras dan menghampiriku, kayanya dia pengen ngecret dinonokku. Benar saja, aku yang sedang ditelentang langsung dinaikinya. Dia mengesek-gesekan kontolnya di nonokku, langsung saja napsuku bangkit lagi “masukin mas, mmaasuukiin dong” desahku berulang kali. Dia membalikkan tubuhku dan sehingga aku tengkurap. Perut bawahku diganjang bantal yang ada di dipan, kakiku direnggangkannya dan dia langsung menusukkan kontolnya ke nonokku. “aahh mas, eennaakk bbaannggeett” desahku. Dia menggenjotnya semakin cepat. Karena napsuku sudah bangkit sejak aku nonton mas Budi ngentotin Santi, aku merasakan sudah akan nyampe. Dia terus memompa kontolnya keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras. “Terus mas, entot Ines yang keras mas, ach” desisku. Akhirnya aku nggak tahan lagi dan “Mas, Ines nyampee, aahh”, jeritku, badanku sampe bergetar saking nikmatnya. Dia masih saja menggenjot nonokku beberapa lamu, dan akhirnya , “Aahh, aku ngecret Nes”. Terasa sekali semburan pejunya beberapa kali dinonokku. Nikmat sekali rasanya. Mas Budi mengajakku masuk ke vilanya. “Mas, kok mas ngecretnya nggak di nonok Santi”, tanyaku. “Yang pertama udah di nonoknya, jadi yang kedua aku ngecretin aja di nonok kamu”, jawabnya. “Sekarang mau ngapain mas?” tanyaku. “istirahat sebentar ya, nanti kita main lagi”, jawabnya sambil berbaring di sofa. Luar biasa staminanya, seperti gak ada puasnya. Aku mengambilkan minuman untuknya dan duduk diubin disebelah sofa. Dia membelai2 rambutku, terus mengusap2 punggungku. Aku hanya menyenderkan kepalaku di dadanya, romantis sekali rasanya.

Sementara itu mas Adi dan Santi sudah menghilang, entah kemana. Tak lama l\kemudian mas Adi keluar dan memberitahu bahwa makan siang sudah siap. Rupanya dia mempersiapkan makan siang. Lauknya sate kambing dan ada 4 botol minuman energi. Ada 4 gelas es batu juga. “Wah mas, hot banget makanan dan minumannya”, kataku. “Iya Nes, kan kita masih punya setengah hari lagi, biar kuat”, jawab mas Adi. Kami segera menyantap makanan itu. Selesai makan, kita santai sejenak. Mas Adi sepertinya masih mau menikmati empotan memekku, mulai melancarkan aksinya. Sementara itu mas Budi membawa Santi ke kamar.

Mas Adi duduk di sofa dan mengajakku duduk disebelahnya. Kemudian diciumnya bibirku, aku membalas ciumannya dan menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia mengemut lidahku dan tangannya sudah mulai meremas2 toketku, pentilku diplintir2nya. Diperlakukan seperti itu napsuku bangkit kembali, aku heran juga kenapa napsuku kali ini cepat sekali timbul. Pentilku diemutnya, ” Mass terruss emut pentil Ines maasss, enak”. Aku segera menyambar kontolnya, kuremas2, kukocok2 sampai akhirnya menegang lagi. “Mas, terusin diranjang yuk”, kataku sambil bangun. Dia tidak membawaku ke kamar tapi menelentangkan aku di meja makan. “Buat variasi ya Nes”, katanya sambil mulai mengelus itilku. Pahaku otomatis mengangkang dan diletakkan dipundaknya ketika itilku dikilik2 dengan jarinya. nonokku mulai basah lagi. “Mas, kalau gini terus Ines rasanya mau pingsan kenikmatan”. Kemudian dia mulai menjilati nonokku. Dia tau kalo aku dijilat nonoknya pasti napsuku lebih berkobar2 lagi. “aduhhh aku nggak kuat, masss, masukkin mas”. Aku mengangkat kakiku dan mengangkang lebar2. Dia segera mengamblaskan kontolnya ke nonokku. Nonokku berkedut2 ketika kemasukan kontolnya yang besar keras itu. “Enjot yang keras mas”, teriakku lagi. “Nes, nonok kamu ngempotnya kenceng banget, enak banget Nes”, katanya sambil memompa kontolnya keluar masuk nonokku, makin lama makin cepat. Akupun semakin aktif memutar-mutar pinggulku mengiringi keluar masuknya kontolnya di nonokku, kutekan pantatnya dengan kakiku yang melingkari pinggangnya dengan keras hingga kontolnya rasanya masuk semakin dalam dinonokku. “Enak mas”, lenguhku lagi. Dia terus mengenjot sambil meremas toketku, sesekali dia mengemut pentilku. Nggak tau berapa lama dia mengentotiku, sampai akhirnya “Maas” jeritku sambil menjepitkan pahaku kuat2. kontolnya terus disodokan makin cepat dan akhirnya..Crot.. croot.. croot.. Terasa sekali muncratnya pejunya dinonokku. “Nikmat sekali mas”.

Selesai permainan hot itu, aku menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri dibawah shower. Tiba2 ada tangan yang memelukku, ternyata mas Budi. Dibawah shower kita saling berpelukan, saling menyabuni. toket dan kontol menjadi sasaran, mulanya dielus, akhirnya diremes2. Kontolnya keras lagi karena terus saja kuremas dan kukocok. Dia duduk diatas toilet, kontolnya sydah tegak mengacung keras. Aku duduk membelakanginya, kaki kukangkangkan dan mengarahkan kontolnya ke nonokku. Terasa sekali, perlahan kontolnya mulai lagi menyesaki nonokku. Dia menyodokkan kontolnya dari bawah keluar masuk nonokku. “Mas, enjot yang cepet mas”, rintihku saking nikmatnya. Pinggulku kugoyang dengan liar mengiringi keluar masuknya kontolnya di nonokku. Dia meremas2 toketku sambil menarik tubuhku kebelakang. Dia mencium bibirku dan aku membalas ciumannya. Cukup lama dia menyodok nonokku pada posisi itu sampai akhirnya dengan sodokan yang lebih cepat dan keras dia ngecret di nonokku. Akupun nyampe bersamaan dengan muncratnya pejunya. “Sst mas” jeritku dan dia memeluk aku dengan erat. Hingga beberapa saat dia masih memelukku, aku menikmati sensasi itu dengan berciuman lembut. “Trim’s ya mas, mas sudah membawa Ines ke surga kenikmatan, luar biasa weekend kali ini. Kapan2 Ines dientot lagi ya mas”, kataku. “Tentu saja Nes, aku juga merasa nikmat sekali ngentotin kamu. Nonok kamu jauh lebih nikmat dari nonoknya Santi, mana empotannya hebat lagi”, katanya memujiku. “Adi juga bilang lebih nikmat ngentotin kamu, kayanya Adi mau ngentotin kamu lagi deh kapan2. Aku jadi punya saingan”. “Kenapa saingan mas, Ines mau kok ngelayani mas berdua sekaligus. Ines pasti nikmat banget kalo diantri begitu”, jawabku. Mas Budi sambil tersenyum “Hebat kamu Nes, pinter banget muasin cowok”. Selesailah sensasi kenikmatan tukar pasangan.
http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888
http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888

Shinta yang sudah bernafsu


http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888 

Waktu itu hari jumat, aku pulang dari rumah teman SMA. Biasa, habis nonton film porno. Soalnya temanku kost sendiri, jadi amanlah buat nonton-nonton. Sampai di rumah, suasananya sepi. Aku kira keluargaku pergi semua. Baru saja aku mau mencari kunci pintu, kakak perempuanku Lia, 20 tahun, membukakan pintu.
“Ngga kuliah to Mbak?” tanyaku.
“Ngga, ada temenku tuh yang datang.” jawab Kak Lia santai.

Waktu aku masuk ke ruang tamu, kulihat teman kakakku, Agnes, sedang nonton TV. Aku nggak tahu film apa itu. Aku masuk kamar buat ganti baju. Saat itu aku ngga bayangin yang ngeres-ngeres. Pada saat aku keluar dari kamarku, Agnes menyapaku.
“Eh, Ro, filmmu ini bagus lho!”
“Eh, film apa emang?” tanyaku kaget.
“Ini, masa sama punya sendiri ngga tahu.”
Karena memang bingung, aku dekati Agnes, mau tahu film yang dia maksud.
“Eh.. ini ya?” jawabku kaget setengah mati. Soalnya film yang sedang dia tonton adalah film porno yang kupinjam dari temanku seminggu yang lalu. Astaga, pikirku, aku lupa mengembalikan.
“Kak.. kok bisa tahu, darimana ya?” jawabku agak malu.
“Tadi kakakmu ngambil dari kamarmu, emang kalian belum pernah nonton bareng ya?” jawab Agnes.
“Ya.. belum sih, aku cuma pinjem bentar dari temen?” kataku.

Tiba-tiba kakakku muncul. Agnes bertanya kepada kakakku, “Dari mana, Li?”
“Ini beli jus di warung.”
Agnes terus bertanya kepada kakakku, “LI, adikmu ini mbok diajak nonton sekalian, biar bisa dipraktekin.. haha..”
Aku kaget mendengar pertanyaan Agnes. Langsung pikiranku mulai ngeres.
“Wah, ini sih kesempatan gue,” pikirku.
“Ngapain Ro? Nyengir-nyengir sendiri, mulai ngeres tuh pikiranmu, ngga apa ding. Kan udah gede. Kamu sudah pernah ngeseks kan Ro?” tanya Agnes menggoda.
“Wah, jangan sampai hilang nih kesempatan,” pikirku.
“Eh, belum sih, tapi emang pingin, he..he.”
“Kalo gitu sini Ro, mumpung ada kita berdua.” goda Agnes.
Kakakku hanya senyum-senyum melihat aku. Wah, Mbak Lia ternyata nafsu juga nih.
“Ya deh, tapi entar Mbak, jadi kebelet kencing nih.”
“Wah, udah ngaceng tuh punyamu, Ro. Eh, Mbak Agnes ikut ya? Kita mulai di kamar mandi aja ya?”
“Eh Lia, entar ya, gue pinjem adikmu.” kata Agnes yang sudah bernafsu.
“Ha.. ayo deh,” jawabku.

Begitu aku mau kencing, Agnes langsung mengelus burungku dari belakang. Wah asyik nih pikirku. Agnes hanya diam sambil mengelus burungku yang sudah keluar air kencing.
“Sini aku bersihin.”
Aku sih mau aja. Agnes langsung jongkok di depanku dan menjilat kepala burungku sekalian dikulum-kulum sampai masuk ke mulutnya. Kupegangi kepala Agnes dan kugerakkan kepalanya ke kanan-kiri. Kemudian dia berdiri dan langsung mencium bibirku dengan semangat. Lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun mengikuti permainannya saja. Tanganku mulai kugerakkan ke buah dadanya yang montok. Aku putar-putar tanganku dan kudorong-dorong susunya.
Agnes mendesih pelan, “Ahh..”

Kubuka bajunya sampai lepas dan kelihatan susunya yang dibungkus BH putih. Kualihkan mulutku ke sekitar susunya. Kucium-cium dan kemudian kulepas BH-nya.
“Wah, putingnya besar nih pikirku.”
Aku langsung mengulum putingnya dengan lembut dan tangan kiriku menggosok-gosok susunya yang satu lagi.
“Ah.. Teruss.. Ro,” rintih Agnes sambil tangannya terus memainkan burungku. Setelah agak lama kumainkan susunya, aku berjongkok mau membuka celana jeansnya.
Tiba-tiba Mbak Lia muncul dan ngomong, “Eh, diterusin di kamarku yok, TV-nya udah kupindah ke sana. Masak aku cuma liat doank.”
“I..ya deh, yuk Ro kita pindah.. Aaah..” jawab Agnes dengan gelinya karena tanganku mengenai lubang kemaluannya.

Setelah selesai kulepas celana Agnes dan tentu saja aku sudah telanjang, kugendong Agnes di depanku dengan lidahku memainkan putingnya.
Agnes mendesah, “Ahh..ah..ehh.”
Kubaringkan di ranjang kakakku dan kulihat kakakku sudah melepas bajunya. Kudatangi Mbak Lia. Agnes hanya diam saja dengan tangannya menggosok-gosok lubang kemaluannya sendiri. Langsung kucium mulut Mbak Lia dan kumainkan susunya dengan gerakkan memutar dan meremas.
“Ehh.. Srrp,” suara kakakku dengan mulut kami masih berciuman.
Tangan kakakku yang satu memegang pantatku dan yang satunya memegang burungku yang semakin besar saja rasanya. Lalu kuangkat kedua kaki kakakku dan kubaringkan pelan di ranjang. Dengan posisi aku di atas, kedua kaki kakakku melingkar di pinggangku, dan kugoyangkan pinggulku biar burungku bergesekkan dengan lubang kemaluannya. Lalu kuarahkan mulutku ke lubang kemaluan kakakku dan kujilat-jilat, kemudian kumasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya. Sementara itu tanganku bergerilya di atas susunya, kuremas-remas.
“Ah.. Ayo teruss.. shh..” rintih kakakku.

Kemudian Agnes berdiri dengan lubang kemaluannya mengarah di mulut Mbak Lia dan menggoyangkan pantatnya di kepala Kak Lia. Kakakku pun langsung menjilat-jilat lubang kemaluan Agnes dengan semangat. Suara rintihan mereka membuatku semakin nafsu. Dan langsung kuarahkan burungku ke dalam lubang kemaluan kakak. Kaki kirinya kuangkat dan ku desak burungku untuk masuk ke lubang kemaluannya. Kugerakkan maju mundur dan kadang memutar sampai burungku basah oleh lendir dari lubang kemaluan kakakku.
“Crp.. crep.. slokk..” suara gesekan burungku dengan lembut.
“Emm.. ahh.. Terus Ro..o.”
Semakin cepat ku dorong pantat dan tiba-tiba kurasakan burungku menegang keras dan kurasakan air maniku keluar deras di dalam lubang lubang kemaluan kakakku.
“Ahh.. ahh.. uhh!” desahku.
“Uhh.. ehha..” jerit kakakku yang juga mencapai orgasme.

Selama orgasme kutekan pantatku sampai burungku paling dalam dan kugerakkan maju mundur dan memutar. Kudiamkan beberapa saat di dalam karena burungku berkurang ketegangannya. Setelah kembali tegak kukeluarkan dan aku berdiri menuju ke Agnes yang masih mengerang keasyikan karena lubang kemaluannya masih dikulum mulut kakakku. Dengan posisi kakakku telentang, Agnes tetap menggerakkan pantatnya di kepala Mbak Lia, aku pegang kepala Agnes dan kuarahkan mulutnya ke burungku yang masih basah. Agnes langsung mengocok burungku dengan tangannya dan mengulum kepala burungku. Aku merasakan tegangan yang tinggi saat kugerakkan burungku maju mundur ke mulut Agnes, sampai Agnes kadang-kadang agak tersendak karena burungku masuk sangat dalam. Begitu aku merasa mau orgasme, kupegangi kepala Agnes, kugerakkan dengan agak cepat dan tangan Agnespun mendorong pantatku ke depan.
“Creet.. creett.. cprott,” suara air maniku yang memuncrat ke dalam mulut Agnes. Aku mendesah dengan agak keras. Dan kulihat Agnes dengan susah payah berusaha menelan seluruh pejuhku agar jangan sampai tumpah ke ranjang.
“Hukk..uhuk.” kudengar Agnes terbatuk-batuk karena kesulitan menelan pejuhku.
“Haa.haa.haa, Enak ya Mbak rasanya?” tanyaku menggoda.
“Seperti ..emm” jawabnya.
Kemudian dia memegangi burungku yang kembali melemah agar tegak kembali sambil di kocok-kocok.

Ah..enak sekali rasanya pikirku dan aku melirik ke arah film porno yang sampai ke adegan di mana si cewek menungging dan yang cowok memasukkan burungnya dari belakang. “Eh.. Mbak seperti itu ya posisinya?” pintaku.
“Oke deh,” jawab Agnes.
Nah sekarang giliran kamu, Nes, pikirku. Saat aku berusaha memasukkan burungku ke lubang kemaluannya lewat bawah, Mbak Lia berdiri dengan kedua kakinya di antara punggung Agnes. Aku dan Mbak Lia berciuman dengan memainkan lidah di mulutku, kadang menjilat bibirku, sementara tanganku masih memegangi pinggang Agnes untuk mendorong burungku. Agnes dengan gerakan maju mundurnya membuat aku keenakkan. Agnes mendesah cepat dan keringat kami bertiga semakin banyak. Kemudian kuarahkan tanganku ke buah dada Agnes yang menggantung karena posisinya yang nungging. Kuremas-remas dan kugerakkan ke banyak arah. Sementara pinggangku terus memompa agar burungku terus keluar masuk ke lubang kemaluannya. Ciumanku dengan Mbak Lia semakin seru dan penuh nafsu. Sesekali kuarahkan tanganku ke buah dada kakakku yang ukurannya hampir sama besarnya dengan punya Agnes. Tibalah saatnya aku orgasme ketiga kalinya. Dengan segera tanganku memegang pinggang Agnes dan kudorong pantatku dengan cepat.

“Crepp..creep..” suara selangkanganku berbenturan dengan pinggiran lubang kemaluannya.
Dan, “Crut..” air maniku memuncrat derasnya di dalam lubang kemaluan Agnes.
Kami berdua mendesah keras karena Agnes pun mencapai orgasme. Cukup lama aku merasa orgasme sehingga kutekan pantatku ke depan dan kugerakkan burungku yang ada di dalam lubang kemaluannya. Setelah beberapa saat kukeluarkan burungku yang basah dan Mbak Lia pun dengan spontan memegang burungku dan menjilati bekas air maniku yang bercampur dengan lendir lubang kemaluan Agnes.

Kami pun beristirahat dengan tiduran telanjang tanpa satu helai pakaian. Aku di tengah dan mereka di sampingku. Tanganku masing-masing memegang buah dada Mbak Lia dan Agnes sementara entah tangan siapa memegangi burungku yang mulai bergerak-gerak lagi.

http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888
http://www.acehpoker.com/ref.php?ref=LAHAN888